Pahami Kumuh Melalui Pelatihan

Potret Pelatihan Masyarakat Desa Harapan Maju Sei Lepan Langkat

Program penanganan kumuh yang disebut dengan Program KOTAKU (Program Kota Tanpa Kumuh)merupakan program pemerintah melalui kementrian PU-PERA dalam rangka penyelesaian target 100-0-100.Yaitu 100 % terlayani akses sanitasi dengan baik, 0% kumuh teratasi dan 100% akses air minum dapat terlayani dengan baik sampai tahun 2019.

Dalam rangka penyelesaian target tersebut maka pelaksanaan kegiatannya dilaksanakan langsung oleh masyarakat khususnya lokasi yang sebelumnya mendapatkan intervensi program PNPM Mandiri Perkotaan, hal ini bertujuan agar relawan-relawan yang ada di masyarakat masih dapat melanjutkan program dengan pendekatan pemberdayaan. Untuk mendorong pemahaman semua pelaku ditingkat masyarakat diperlukan upaya strategis di program ini melalui pelatihan masyarakat yang disebut PKM (Peningkatan Kapasitas Masyarakat).

PKM dilaksanakan di seluruh desa dan kelurahan pendampingan program KOTAKU, salah satu penerima program KOTAKU adalah desa Harapan Maju Kecamatan Sei Lepan Kabupaten Langkat. Desa Harapan Maju yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa bernama Darmianto ini berada di pedalaman jauh dari keramaian kota kabupaten Langkat.

Begitu jauhnya lokasi desa tersebut untuk menempuhnya harus mengendarai sepeda motor selama 1 jam perjalanan dari kota Pkl.Brandan, dengan melewati perkebunan sawit yang luas dan sepi. Tetapi karena tanggung jawab dan pengabdian tim 3 Langkat selalu setia mendampingi desa tersebut. Tim yang dipimpin Senior Faskel RIdho Ilham tersebut beranggotakan 4 orang yang terdiri dari Faskel CD; Nurainun Lubis dan Indra Syahputra, Faskel Infra; Lido Siagian, Faskel Ekonomi ; Lastri Nadaek.

Dalam fasilitas masyarakat tim 3 tidak lepas dari memfasilitasi penyusunan perencanaan pelatihan / proposal pelatihan. Proses penyusunan proposal oleh masyarakat ini memberikan pembelajaran bahwa masyarakat diharapkan mampu menyusun kebutuhan pelatihan program KOTAKU, dengan perencanaan yang matang diharapkan pada saat pelatihan kegiatan sudah sesuai rencana yang ada (proposal).

Usulan yang diajukan masyarakat melalui proposal perencanaan pelatihan masyarakat tersebut sebesar Rp. 8.535.000,00 (delapan juta lima ratus tiga puluh lima ribu rupiah) untuk membiayai 6 jenis pelatihan dan pengembangan media warga, adapun 7 jenis kegiatan tersebut adalah Pelatihan BKM,LURAH,RELAWAN, Pelatihan Tim Perencanaan Partisipatif, On The Job Training,Pelatihan Operasional Dan Pemeliharaan,Pelatihan Komputer,Pelatihan KSM dan Pengembang Media Warga.

 Untuk menjamin agar proposal usulan masyarakat tersebut tersusun dengan baik dan benar maka  dilakukan pemeriksaan/verifikasi secara berjenjang, hal ini bertujuan agar proses penyusunan proposal tersebut membuktikan telah dilakukan pemeriksaan secara bertahap dari  tim faskel, tim korkot,tim KMW dan Satker. Tujuan verifikasi berjenjang tersebut adalah untuk menjamin agar saat pemeriksaan dari pihak yang berwenang tidak lagi ditemukan adanya kesalahan dalam pengajuan usulan perencanaan/proposal.

Pelaksanaan Pelatihan Masyarakat

Agar pelatihan berjalan dengan baik dan focus maka pelatihan dilakukan di desa HarapanMaju yang berpusat di balai desa Harapan Maju, tujuannya adalah agar masyarakat yang terlibat dapat langsung mengikuti pelatihan tanpa meninggalkan keluarga, adapun beberapa pelatihan yang dilaksanakan di desa tersebut adalah Pelatihan BKM,LURAH,RELAWAN, PelatihanTim Perencanaan Partisipatif, On The Job Training, Pelatihan KSM dan Paket pengembangan Media Warga sedangkan untuk kegiatan Pelatihan Operasional Dan Pemeliharaan,Pelatihan Komputer dilaksanakan kluster tingkat kabupaten yang dilaksanakan di Dinas PU Kabupaten Langkat

Panitia penyelenggara yang dibentuk oleh masyarakat desa Harapan Maju di ketuai oleh Sutrisno, dengan bendahara oleh Sriatun yang dibantu oleh anggota masyarakat yang lainnya. Panitia memiliki tanggung jawab untuk menjamin terselenggaranya seluruh pelatihan masyarakat dengan menyiapkan seluruh kebutuhan  pelatihan yang dibimbing oleh tim faskel.

Adapun pemandu pelatihan adalah faskel tim 3 Kab. Langkat yang terdiri dari SF;Ridho Ilham, Faskel CD; Nurainun Lubis dan Indra Syahputra, Faskel Infra; Lido, Faskel Ekonomi; Lastri Nadaek.  Dalam fasilitasinya tim 3 berbagi tugas dengan anggota tim dan koordinasi dalam memandu pelatihan masyarakat sesuai kapasitasnya tentunya dilakukan dengan tandem antara anggota tim.

Edi Supranto selaku koordinator BKM/LKM menyatakan senang mengikuti pelatihan masyarakat ini disamping mendapatkan ilmu baru tentang kumuh juga bias kumpul bersama warga masyarakat, dia menyatakan  selama ini tidak tau apa itu kumuh tetapi melalui pelatihan ternyata kondisi kumuh dapat di ketahui melalui terpenuhinya 7 indikator kumuh, jika indikator kumuhnya semakin banyak maka bisa dipastikan kawasan tersebut adalah kawasan kumuh.

Agar teori pelatihan tersebut dapat di praktekan maka dilakukan praktek lapangan dengan pelatihan On The Job training yaitu pelatihan dengan praktek langsung kelapangan untuk melihat langsung kondisi desa bersama tim faskel sebagai pemandu pelatihan.

Lebih lanjut Edi menuturkan bahwa untuk dinyatakan kumuh perlu dilihat kriterianya, Pertama; dapat dilihat dari kriteria bangunan gedung nya ( bagaimana kepadatan dan keteraturannya serta sesuai kriteria teknis apa tidak), Kedua; kriteria jalan lingkungannya, apakah jalan lingkungan tersebut  dapat dilalui kendaraan apa tidak, bagaimana luas jalannya apakah memadai atau tidak, sedangkan ketiga  kriterianya adalah berkaitan dengan penyediaan air minum, apakah dikawasan tersebut  setiap orang mampu untuk mengakses air minum dengan baik atau tidak, sedangkan Keempat; adalah dilihat dari ketersediaan drainase lingkungannya ada atau tidak, jika ada apakah mampu menjadi limpasan air hujan dan berbau atau tidak airnya, kelima; tentang pengelolaan air limbah sudah diolah dengan baik apa tidak jika terdapat air limbah yang terbuang dan tidak diolah maka menjadi salah satu penentu kumuh, keenam; tentang sampah, apakah sudah diolah dengan baik dengan tersedia nya tempat pengolahan sampah atau malah sebaliknya, ketujuh; tentang pengamanan kebakaran, apakah di kawasan tersebut terdapat sistem pengamanan dan kebakaran secara aktif maupun pasif, tersedianya pasokan air minum dan sarana akses jalan mobil pemadam kebakaran,  Jika ternyata terdapat minimalnya 5 kriteria tersebut diatas maka lokasi tersebut dinyatakan sebagai lokasi kumuh.

Penulis,

Nurainun Lubis
Faskel CD Tim 3 Kabupaten Langkat